Kamis, 02 Maret 2017

Penyegaran pemikiran

Penyegaran pemikiran

Al-Qur'an hadir di tengah-tengah kita tidak lain sebagai petunjuk hidup bagi umat manusia. Sebuah kitab suci yang masih terjaga keotentikannya sejak 14 abad yang lalu hingga saat ini,  dan sampai hari kiamat tiba. Bukankah sungguh luar biasa kitab suci umat islam ini?  Lalu bagaimana cara kita memperlakukan Al-Qur'an sehingga benar-benar bisa menjadi petunjuk bagi hidup kita?  Agar Al-Qur'an tidak hanya menjadi barang yang disimpan di Almari hingga berdebu?

Perlu diketahui,  bahwa Qur'an hadir bukan tanpa adanya suatu situasi dan kondisi,  Qur'an hadir dalam suatu ruang dan waktu.  Maka,  dengan adanya suatu adigium bahwa Al-Qur'an itu shohihun li kulli zaman wa makan ( relevan di setiap tempat dan waktu) dibutuhkan adanya reinterpretasi,  rekontruksi, serta penyegaran pemikiran untuk membuktikan kemukjizatan Al-Qur'an,  dan membuktikan bahwa Al-Qur'an benar-benar bisa menyelesaikan persoalan umat dalam konteks kekinian.

Mari kita sedikit merenungkan, bagaimana teks yang hadir 14 abad lalu dalam suatu masyarakat yang sarat dengan sosial budaya saat itu,  kemudian kita ingin menjadikan teks tersebut benar-benar menjadi hidup dalam arti bisa menjadi petunjuk,  motivasi dalam konteks kekinian. Padahal manusia merupakan mahkluk yang sangat dinamis,  bagaimana sejarah saat itu sudah bertransformasi sedemikian rupa dari waktu ke waktu,  jangankan 14 abad yang lalu,  dalam konteks Indonesia saja sangat terlihat adanya kedinamisan dari waktu ke waktu. Maka bagaimana mungkin penafsiran masa lalu bisa diterapkan pada konteks kekinian? Saya kira sudah banyak hal-hal yang tidak relevan dengan masa kini,  karena tadi,  manusia itu sangat dinamis. Lalu apakah kita tetap bersikukuh untuk berpedoman pada pemikiran masa lalu untuk menyelesaikan berbagai persoalan umat di masa kini?  Saya meminjam bahasa pak prof. Quraish Shihab,  orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang terlambat lahir. Dengan melihat fenomena tersebut bukan berarti kita membuang jauh-jauh pemikiran yang ada di masa lalu,  tetapi kita menerapkan suatu jargon yaitu
المحافظة علي القديم الصالح والاخذ بالجديدالاصلاح
(memelihara/melestarikan budaya,tradisi, dan pemikiran lama yang  relevan serta mengambil langkah, terobosan,  inovasi baru yang baik)

Semakin hari permasalahan umat ini semakin kompleks,  maka saya kira dibutuhkan penyegaran pemikiran serta pemikiran-pemikiran baru dalam penafsiran Qur'an agar apa yang terkandung di dalam Al-Qur'an benar-benar bisa kita rasakan manfaatnya bagi kehidupan di dunia ini maupun nanti di akherat kelak sebagai syafaat bagi kita.  Amiin

Bukan berarti dengan adanya reinterpretasi terhadap Al-Qur'an seolah olah kita menjauh dari apa yang sudah diajarkan oleh para ulama terdahulu. Akan tetapi, justru dengan itulah merupakan bentuk manifestasi kecintaan kita terhadap Al-Qur'an.

Maka,  sudah sepantasnya kita sebagai seorang muslim untuk selalu mengaji,  mengkaji dan mengaktualisasi nilai-nilai yang ada dalam Al-Qur'an agar hidup lebih terarah,  agar hidup lebih indah,  dan agar hidup menjadi damai.

M. Radya Yudantiasa
Mahasiswa Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir,  UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta